me

me
look at me

Rabu, 26 Oktober 2011

Manusia dengan keragaman sosial, budaya dan peradaban


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Dewasa ini, kebudayaan nasional Indonesia masih dalam masa pertumbuhan karena kebudayaan Indonesia masih terdiri atas segala bentuk dan jenis kebudayaan daerah yang dikembangkan kearah perpaduan dan kesatuan kebudayaan untuk seluruh bangsa Indonesia. Sebagai bahan untuk membangun kebudayaan nasional Indonesia, perlu segala inti sari serta puncak-puncak kebudayaan daerah yang terdapat diseluruh Indonesia yang dipergunakan sebagai modal isi yang dikemudian dikembangkan, diperkaya dengan unsur-unsur baru yang kita perlukan dan kita butuhkan, untuk kehidupan dan pembangunan dewasa ini yang sejalan dengan tujuan pembangunan nasional.
Namun pada kenyataannya, Nilai-nilai budaya Indonesia saat ini mulai terkikis oleh masuknya budaya asing. Pemerintah, masyarakat, dan pelaku budaya perlahan meninggalkan budaya tradisional dengan alasan mengikuti arus globalisasi. Akibatnya, bangsa Indonesia kehilangan ciri atau citra bangsa di mata dunia. Ungkapan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya, namun hal tersebut tidak berlaku di Indonesia. Kenyataannya, bangsa Indonesia lebih suka mengadopsi budaya asing daripada mempertahankan budaya tradisional.
Budaya memiliki banyak arti yang berkaitan dengan suatu bangsa. Budaya bisa berarti akal budi atau pikiran. Akal budi bangsa Indonesia mulai luntur seiring dengan terkikisnya nilai budaya. Nilai budaya yang makin terkikis berdampak pada generasi muda. Sejarah berdirinya Indonesia dikhawatirkan akan menjadi cerita usang yang tidak menarik di kalangan generasi muda.
Oleh sebab itu, perlu usaha untuk memajukan kebudayaan sehingga diharapkan segala bentuk kebudayaan haruslah bertujuan memajukan peradaban, kebudayaan, dan persatuan Indonesia dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya budaya bangsa sendiri sehingga dapat mempertinggi derajat dan martabat bangsa Indonesia.
Berdasarkan paparan diatas akan dibahas lebih jauh mengenai seluk beluk kebudayaan dalam makalah ini yang berjudul “Manusia dengan Keragaman Sosial, Budaya, dan Peradaban”. Namun yang lebih ditekankan dalam pembahasan mengenai pengaruh budaya asing terhadap budaya daerah, baik yang berdampak buruk ataupun berdampak baik bagi perkembangan budaya daerah dan diulas beberapa solusi untuk menangani dampak buruk dari pengaruh budaya asing tersebut.

B.       Identifikasi Masalah
Makalah ini dibatasi pada permasalahan pengaruh kebudayaan asing terhadap kebudayaan daerah di Indonesia. Kebudayaan khas Indonesia yang mulai luntur dan tergerus oleh budaya baru dapat mempengaruhi keutuhan bangsa. Moral luhur sebagai bangsa Indonesia perlahan-lahan mulai hilang tergantikan dengan sikap modern yang kurang cocok dengan kepribadian bangsa. Ini diakibatkan karena kurang tersaringnya budaya asing yang masuk pada bangsa ini.

C.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah yang telah dipaparkan, maka yang menjadi rumusan masalah adalah:
1.        Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi masuk pengaruh kebudayaan asing terhadap kebudayaan daerah di Indonesia?
2.        Bagamana solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut?

D.      Pendekatan dan Metode
Pendekatan yang dilakukan dalam pemecahan masalah ini adalah pendekatan multiaspek. Dalam pemecahannya, digunakan beberapa sudut pandang yang relevan dan berpengaruh penting untuk bisa menyelesaikan permasalahan yang ada.
Metode yang digunakan dalam pemecahan masalah ini adalah metode kuantitatif. Data dari metode kuantitatif didapat dari penyebaran angket pada beberapa responden di sekitar kampus, meskipun bersifat terbatas dan hanya beberapa sampel tetapi data yang diperoleh cukup mewakili dan lebih bisa dipertanggungjawabkan. Selain itu kami melakukan kajian pustaka untuk mendukung dalam penyelesaian masalah yang sedang kami angkat.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.      MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara turun-menurun. Budaya tercipta dari kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian-kejadian yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.
Manusia adalah makhluk berbudaya. Berbudaya merupakan kelebihan manusia dibanding makhluk lain. Dengan berbudaya, manusia dapat memenuhi kebutuhan dan menjawab tantangan hidupnya. Manusia menggunakan akal dan budinya dalam berbudaya. Kebudayaan merupakan perangkat yang ampuh dalam sejarah kehidupan manusia yang dapat berkembang dan dikembangkan melalui sikap-sikap budaya yang mampu mendukungnya.

1.        Pengertian Dan Wujud Kebudayaan
a.        Pengertian Kebudayaan
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh yang bersifat kompleks, abstrak, dan luas.
Berikut pandangan para ahli mengenai kebudayaan.
1)        Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
2)        Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
3)        Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
4)        Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
b.        Perwujudan Kebudayaaan
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga yaitu gagasan, aktivitas, dan artefak.
1)        Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak, tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
2)        Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
3)        Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

2.        Sistem, Unsur, dan Substansi Budaya
a.        Sistem Budaya
Sistem kebudayaan merupakan komponen dari kebudayaan yang bersifat abstrak dan terdiri dari pikiran-pikiran, gagasan, konsep, serta keyakinan. Dengan demikian sistem kebudayaan merupakan bagian dari kebudayaan, yang dalam bahasa Indonesia disebut adat istiadat. Dalam adat istiadat  terdapat juga sistem norma dan disitulah salah satu fungsi sistem budaya adalah menata serta menciptakan tindakan-tindakan dan tingkah laku manusia.
Sistem kebudayaan suatu daerah akan menghasilkan jenis-jenis kebudayaan yang berbeda. Jenis kebudayaaan ini dapat dikelompokan ke dalam 2 yaitu kebudayaan material dan kebudayaan non formal.
Kebudayaan material antara lain hasil  cipta, karsa, yang berwujud benda, barang alat, pengelolaan alam. Seperti gedung, pabrik, jalan, rumah, dan sebagainya. Sedangkan kebudayaan non formal hasil karsa yang berwujud kebiasaan, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Macam-macam bagian dari kebudayaan non material antara lain.
1)        Cara (usage)
Cara adalah proses interaksi yang terus menerus akan menghasilkan pola-pola tertentu. Norma yang disebut cara mempunyai kekuatan yang lemah dibanding dengan norma lain. Pelanggaran dari norma ini hanya disebut tidak sopan, misal bersendawa, berdecak, dan sebagainya.
2)        Kebiasaan (Volksway)
Kebiasaan adalah proses yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama, merupakan cermin bahwa orang tersebut menyukai perbuatannya. Pelanggaran terhadap norma ini berupa teguran atau sindiran. Contoh dari kebiasaan adalah menghormati orang tua, bertutur sopa, memberi salam, dan lain- lain.
3)        Norma tata kelakuan (Mores)
Mores adalah aturan yang berlandaskan pada apa yang baik dan seharusnya menurut agama, filsafat atau nilai kebudayaan. Pelanggaran terhadap mores akan disebut jahat. Contoh mores membunuh, mencuri, melecehkan lawan jenis. Mores merupakan norma berat karena sanksinya pun berat.


4)        Norma adat istiadat (custom)
Tata kelakuan yang kekal dan kuat integritasnya dengan pola-pola perilaku masyarakat dapat mengikat dan membentuk adat istiadat. Anggota yang melanggar adat istiadat akan mendapat sangsi yang berat dari lingkungan berupa pengucilan.
5)        Norma hukum (law)
Laws adalah suatu rangkaian yang ditujukan pada anggota masyarakat yang berisi ketentuan-ketentuan, perintah, kewajiban, dan larangan agar dalam masyarakat tercipta keamanan, ketertiban juga keadilan. Aturan ini lazimnya tertulis dan dijadikan sebagai undang-undang, atau tidak tertulis berupa keputusan hukum pengadilan adat. Karena sebagian besar norma hukum adalah tertulis maka sanksinya paling tegas.
6)        Mode (fashion)
Mode atau fashion adalah cara dan gaya untuk melakukan dan membuat sesuatu, sering berubah-ubah serta diikuti banyak orang. Ciri khas mode ialah bersifat massal atau dipakai orang banyak. Mode atau fashion tidak hanya terbatas pada penampilan, tetapi juga pada sesuatu di bidang lain. Dari mode akan sesuatu yang lebih baru dan bersifat inovatif, missalkan sesuatu yang bersifat kontemporer atau perpaduan antara tradisonal dan modern.
Dalam sistem budaya ini terbentuk unsur-unsur yang paling berkaitan satu dengan lainnya. Sehingga terbentuk tata kelakuan manusia yang terbentuk dalam unsur kebudayaan yang utuh.
b.        Unsur-Unsur Kebudayaan
Kebudayaan yang terdapat pada semua jenis masyarakat, baik masyarakat kota maupun pedesaan, baik masyarakat modern maupun masyarakat tradisional disebut unsur-unsur budaya universal. Unsur-unsur budaya nenurut C. Kluckhohn meliputi tujuh unsur pokok yang dimiliki setiap kebudayaan, diantaranya.
1)        Bahasa
Sesuatu yang berawal dari hanya sebuah kode, tulisan hingga berubah sebagai lisan untuk mempermudah komunikasi antar sesama manusia. Bahkan sudah ada bahasa yang dijadikan bahasa universal seperti bahasa Inggris.
2)        Sistem pengetahuan
Sistem yang terlahir karena setiap manusia memiliki akal dan pikiran yang berbeda sehingga memunculkan dan mendapatkan sesuatu yang berbeda pula, sehingga perlu disampaikan agar yang lain juga mengerti.

3)        Sistem Organisasi kemasyarakatan
Sistem yang muncul karena kesadaran manusia bahwa meskipun diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna namun tetap memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing antar individu sehingga timbul rasa utuk berorganisasi dan bersatu.
4)        Sistem peralatan hidup dan teknologi
Sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan barang-barang dan sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan manusia dengam makhluk hidup yang lain.
5)        Sistem mata pencaharian hidup
Terlahir karena manusia memiliki hawa nafsu dan keinginan yang tidak terbatas dan selalu ingin lebih.
6)        Sistem religi
Kepercayaan manusia terhadap adanya Sang Maha Pencipta yang muncul karena kesadaran bahwa ada zat yang lebih dan Maha Kuasa.
7)        Kesenian
Setelah memenuhi kebutuhan fisik manusia juga memerlukan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan psikis mereka sehingga lahirlah kesenian yang dapat memuaskan.
c.         Substansi (isi) Utama Budaya
Substansi (isi) utama kebudayaan merupakan wujud abstrak dari segala macam ide dan gagasan manusia yang bermunculan di dalam masyarakat yang memberi jiwa kepada masyarakat itu sendiri, baik dalam bentuk atau berupa sistem pengetahuan, nilai, pandangan hidup, persepsi, dan etos kebudayaan.
1)        Sistem Pengetahuan
Melalui sistem pengetahuan, manusia mampu beradaptasi untuk menyesuaikan hidupnya dengan alam sekitarnya. Melalui sistem pengetahuan juga manusia mampu meningkatkan produktivitas kebutuhan hidupnya.
2)        Sistem Nilai Budaya
Nilai adalah sistem yang baik yang selalu diinginkan, dicita-citakan dan dianggap penting oleh seluruh manusia sebagai anggota masyarakat. Karena itu, sesuatu dikatakan memilik nilai apabila berguna dan berharga (nilai kebenaran), indah (nilai estetika), baik nilai moral, religius (nilai agama).
Menurut Koentjaraningrat, sistem nilai budaya terdiri atas konsep-konsep yang hidup dalam pikiran sebagian besar warga masyarakat. Oleh karena itu, suatu sistem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.
3)        Persepsi
Persepsi adalah sudut pandang dari seorang individu atau kelompok masyarakat mengenai suatu hal atau suatu masalah. Dalam hal tertentu, sering terjadi persepsi yang satu berbeda dengan persepsi yang lain yang dipengaruhi oleh faktor pengalaman, lingkungan dan pengetahuan. Akibatnya, akan terjadi konflik atau ketegangan, mulai dari hal yang sederhana sampai yang serius.
4)        Pandangan hidup
Pandangan hidup adalah konsep yang dimiliki seseorang atau golongan masyarakat yang bermaksud menanggapi atau menerangkan suatu masalah tertentu. Jika suatu bangsa tidak memiliki pandangan hidup maka bangsa tersebut mudah dikendalikan oleh bangsa lain, mudah goyah, kehilangan jati diri dan akhirnya sulit untuk jadi bangsa dan negara yang besar.
5)        Etos kebudayaan
Etos atau jiwa kebudayaan berasal dari bahasa inggris berati watak khas. Etos sering tampak pada gaya perilaku warga misalnya, kegemaran-kegemaran warga masyarakatnya, serta berbagai benda budaya hasil karya mereka, dilihat dari luar oleh orang lain. Etos kebudayaan adalah sifat, nilai, dan adat istiadat khas yang memberi watak kepada kebudayaan suatu golongan sosial dalam masyarakat.
Masing-masing suku diberbagai daerah mempunyai etos kebudayaan masing-masing, yang mungkin saja berbeda sangat mencolok, apa yang baik menurut suku tertentu belum tentu baik menurut suku lain, oleh karenanya diperlukan sikap kedewasaan dan toleransi yang tinggi untuk memahami kebudayaan yang lain.
6)        Kepercayaan
Pada dasarnya, manusia yang memiliki naluri yang menghambakan diri kepada Yang Maha Tinggi yang dianggap mampu mengendalikan hidup manusia. Dorongan ini sebagai akibat atau refleksi ketidakmampuan  manusia dalam menghadapi tantangan-tantangan hidup, dan yang Maha Tinggi saja yang mampu memberikan kekuatan dalam mencari jalan keluar dari permasalahan hidup dan kehidupan. Kepercayaan manusia bermacam-macam bergantung keyakinan manusia.



3.        Sifat Budaya dan Kecenderungannya
a.        Sifat-sifat Budaya
Kebudayaan yang dimiliki oleh setiap masyarakat itu tidak sama, seperti di Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang berbeda, tetapi setiap kebudayan mempunyai ciri atau sifat yang sama. Sifat tersebut bukan diartikan secara spesifik, melainkan bersifat universal. Dimana sifat-sifat budaya itu akan memiliki ciri-ciri yang sama bagi semua kebudayaan manusia tanpa membedakan faktor ras, lingkungan alam, atau pendidikan, yaitu sifat hakiki yang berlaku umum bagi semua budaya dimana juga.
Sifat hakikat kebudayaan di antaranya.
1)        Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari perilaku manusia.
2)        Kebudayaan telah ada lebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu, dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
3)        Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya.
4)        Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang dijinkan.
Sifat hakiki tersebut menjadi ciri setiap budaya. Akan tetapi sekelompok orang akan memahami sifat hakiki yang esensial, terlebih dahulu ia harus memecahkan pertentangan-pertentangan yang ada di dalamnya.
b.        Kecenderungan Bertahan dan Berubahnya Kebudayaan
Kebudayaan akan terus hidup manakala masyarakat mau mempertahankannya, sebaliknya kebudayaan akan musnah jika masyarakat tidak lagi menggunakannya. Dalam mempelajari kebudayaan selalu harus diperhatikan hubungan antara unsur-unsur yang mempengaruhi budaya itu cenderung bertahan atau berubah, dan situasi atau kondisi yang dialami oleh masyarakat yang bersangkutan.
Unsur-unsur penyebab kecenderungan bertahannya suatu budaya antara lain.
1)        Unsur idiologi
Idiologi adalah kumpulan gagasan, dasar, serta tatanan yang baik dalam kehidupan masyarakat dan bernegara yang menjadi jiwa dan kepribadian bangsa. Dengan demikian, unsur idiologi ini cenderung tetap bertahan karena sudah diyakini kebenarannya oleh suatu masyarakat atau bangsa.


2)        Unsur kepercayaan/religi
Semua aktivitas manusia yang berhubungan dengan kepercayaan/religi didasarkan pada suatu keyakinan akan kebenaran (keimanan). Oleh karena itu, unsur kepercayaan atau religi ini cenderung tetap bertahan karena menyangkut keyakinan, kepatuhan atau keimanan yang diyakini.
3)        Unsur seni
Seni adalah sesuatu yang bersifat indah, seni melahirkan cinta kasih, kasih sayang, kemesraan, pemujaan, baik terhadap Tuhan, maupun terhadap sesama manusia. Pengungkapan rasa seni dapat melalui musik, tari, lukisan, satra, dan sebagainya, sebagai hasil cipta, karsa, manusia cenderung bertahan dari masa ke masa.
4)        Unsur bahasa
Bahasa merupakan alat komunikasi, penghubung suatu maksud antar manusia, dari bahasa kita dapat mengungkapkan apa yang kita inginkan. Bahasa cenderung berubah dari masa ke masa, meskipun kosa katanya semakin berkembang, tanpa bahasa manusia tidak dapat berhubungan satu sama lain.
Sedangkan, unsur-unsur yang mempengaruhi kecenderungan perubahan budaya antara lain.
1)        Unsur mata pencaharian
Mata pencaharian dengan sistem tradisional cenderung berubah menjadi suatu sistem yang lebih maju. Perubahan mencakup sistem produksi, distribusi, dan konsumsi. Perubahan tersebut memiliki berbagai alasan, di antaranya.
a)        Rasa tidak puas terhadap keadaan dan situasi yang ada.
b)        Sadar akan adanya kekurangan-kekurangan.
c)        Usaha-usaha menyesuaikan diri dengan perubahan jaman.
d)       Meningkatkan kebutuhan.
e)        Adanya keinginan untuk meningkatkan taraf hidup.
f)         Sikap terbuka terhadap hal-hal baru.
Dengan demikian, sistem mata pencaharian hidup cenderung berubah dari masa ke masa, seiring dengan perubahan jaman, perkembangan ilmu dan teknologi, serta pola hidup.
2)        Unsur sistem teknologi
Manusia tidak dapat menutup kemungkinan dari kemajuan teknologi, karena teknologi itu sendiri bermaksud untuk memudahkan pekerjaan manusia. Kemajuan teknologi berkembang seiring dengan meningkatnya pengetahuan manusia.

3)        Unsur pengetahuan
Sistem pengetahuan manusia mengalami perubahan menjadi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan bertujuan agar manusia lebih mengetahui dan mendalami segi kehidupan. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan terus berkembang sesuai dengan perkembangan dan tingkat keinginan manusia. Misalnya ilmu pengetahuan dulu menyebutkan Pluto adalah sebuah planet, namun kini terbukti bahwa Pluto bukanlah sebuah planet.
c.         Budaya dan Pemenuhan Kebutuhan Hidup Manusia
Budaya berfungsi membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup manusia terdiri atas kebutuhan biologis, kebutuhan sosial, dan kebutuhan psikologis. Manusia mempunyai berbagai kebutuhan agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Selain itu, kebutuhan manusia muncul sebagai upaya manusia untuk memanfaatkan lingkungan. Kebutuhan manusia akan berbeda sesuai dengan tempat, waktu, situasi, dan kondisi. Kebutuhan di desa akan bebeda dengan kebutuhan di kota, kebutuhan pada waktu musim hujan akan berbeda dengan kebutuhan pada waktu musim kemarau, dan sebagainya.
1)        Kebutuhan Biologis
Kebutuhan biologis mutlak harus dipenuhi manusia, artinya jika kebutuhan biologis ini tidak terpenuhi, maka organ tubuh manusia akan terganggu, bahkan bisa meninggal dunia. Kebutuhan biologis mencakup: makan dan minum, istirahat, buang air besar dan kecil, perlindungan dari iklim dan cuaca, pelepasan dorongan seksual, dan kesehatan yang baik.
2)        Kebutuhan Sosial
Untuk memudahkan tercapainya kebutuhan biologis, manusia memerlukan kebutuhan sosial. Yang termasuk kedalam kebutuhan sosial diantaranya: kegiatan bersama; pendidikan; berkomunikasi dengan sesama; keteraturan sosial untuk menciptakan suatu masyarakat yang tertib, aman, tenteram dan untuk menjaga keteraturan sosial diupayakan adanya kontrol sosial.
3)        Kebutuhan Psikologis
Kebutuhan psikologis yang dubutuhkan oleh manusia meliputi hal-hal seperti rasa rileks atau santai, rasa kasih sayang, kepuasan altruistik, kehormatan, dan kepuasan ego yang bisa terwujud setelah ia merasa puas atas keberhasilan yang dicapai.
d.        Budaya Diperoleh Melalui Proses Belajar
Kebudayaan diperoleh melalui proses belajar dari masyarakat dan lingkungannya. Segala kelakuan yang didasari kebudayaan dipelajari oleh anggota masyarakat secar turun temurun. Proses belajar kebudayaan oleh manusia sebagai anggota masyarakat didapat melalui hal-hal berikut.
1)        Proses Internalisasi
Proses internalisasi adalah proses pengembangan potensi yang dimiliki oleh manusia, yang dipengaruhi baik lingkungan internal (dari dalam diri manusia) maupun lingkungan eksternal (dari luar diri manusia).
2)        Proses Sosialisasi
Proses sosialisasi seorang individu dari masa kanak-kanak sampai masa tua selalu belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu sekitarnya yang menduduki beraneka macam peranan sosial.
3)        Proses Ekulturasi
Melalui proses ekulturasi seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, sistem norma, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Proses ini terjadi sejak individu kecil dan disebut sebagai pembudayaan.

4.        Hubungan Manusia dengan Kebudayaan
a.        Manusia Sebagai Pencipta dan Pengguna Kebudayaan
Pada dasarnya manusia menciptakan kebudayaan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, karena itu manusia disebut sebagai pencipta dan pengguna kebudayaan, bahkan disadari ataupun tidak kadangkala manusia adalah perusak kebudayaan. Berikut peranan kebudayaan bagi manusia.
1)        Sebagai pedoman hubungan antara manusia dengan kelompoknya.
2)        Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kemampuan-kemampuan lain.
3)        Membimbing kehidupan manusia.
4)        Membedakan manusia dengan binatang.
5)        Sebagai petunjuk tentang bagaimana manusia itu bertindak dan berperilaku di dalam pergaulan.
6)        Sebagai modal dasar pembangunan.
Karena memiliki peranan yang berarti bagi manusia dengan begitu manusia adalah makhluk yang berbudaya, dengan akalnya manusia dapat mengembangkan kebudayaan. Kebudayaan masyarakat sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber dari masyarakat itu sendiri. Semakin hari pemikiran manusia semakin berkembang dan masyarakat semakin kompleks sehingga melahirkan kebudayaan yang lebih tinggi. Hasil karya tersebut adalah teknologi yang menberikan kemungkinan yang luas untuk memanfaatkan hasil alam bahkan menguasai alam.
b.        Pengaruh Budaya Terhadap Lingkungan
Budaya yang dikembangkan oleh masyarakat maka akan berimplikasi pada lingkungan sekitar dimana masyarakat itu tinggal. Dengan menganalisa pengaruh dan akibat budaya terhadap lingkungan, seseorang dapat mengetahui mengapa suatu lingkungan tertentu akan berbeda dengan lingkungan lainnya dan menghasilkan kebudayaan yang berbeda pula.
Beberapa variabel yang berhubungan dengan masalah kebudayaan dan lingkungan.
1)        Physical Environment, menunjuk pada lingkungan natural seperti: curah hujan, iklim, wilayah geografis, dll.
2)        Cultural Sosial Renvironment, meliputi aspek-aspek kebudayaan beserta proses sosialisasi seperti: norma-norma, adat istiadat, nilai-nilai.
3)        Environmental Orientation and Representation, mengacu pada persepsi dan kepercayaan kognitif yang berbeda-beda pada setiap masyarakat mengenai lingkungannya.
4)        Environmental Behaviour and Process, meliputi bagaimana masyarakat menggunakan lingkungan dalam hubungan sosial.
5)        Out Carries Product, meliputi hasil tindakan manusia seperti membangun rumah, komunitas, kota beserta usaha-usaha manusia dalam memodifikasi lingkungan fisik seperti budaya pertanian dan iklim.
c.         Proses dan Perkembangan Budaya
Perkembangan dan perubahan kebudayaan sejalan dengan perkembangan manusia. Perkembangan dan perubahan tersebut dimaksudkan untuk kepentingan manusia, karena kebudayaan diciptakan oleh dan untuk manusia. Perkembangan kebudayaan itu bersifat kompleks, dan memiliki eksistensi dan berkesinambungan dan juga menjadi warisan sosial.
Kebudayaan yang dimiliki suatu kelompok sosial tidak akan tehindar dari pengaruh kebudayaan kelompok-kelompok lain, dengan adanya kontak-kontak anatar kelompok atau melalui difusi. Suatu kelompok sosial akan mengadopsi suatu kebudayaan tertentu bilamana kebudayaan tersebut berguna untuk mengatasi atau memenuhi tuntuntan yang dihadapinya.
Pengadopsian suatu kebudayaan tidak terlepas dari pengaruh faktor-faktor lingkungan fisikal. Misalnya iklim, topografi sumber daya alam dan sejenisnya. Terjadinya suau proses keserasian antara lingkunagn fisikal dengan kebudayaan yang terbentuk di lingkungan tersebut akan mengakibatkan adanya keserasian antara kebudayaan masyarakat yang satu dengan kebudayaan masyarakat tetangga dekat. Kondisi lingkungan seperti ini memberikan peluang untuk berkembangnya peradaban (kebudayaan) yang lebih maju.
Kebudayaan dari suatu kelompok sosial tidak secara komplit ditentukan oleh lingkungan fisikal saja, namun lingkungan tersebut sekedar memberikan peluang untuk terbentuknya sebuah kebudayaan. Dari waktu ke waktu, kebudayaan berkembang seiring dengan majunya teknologi (dalam hal ini adalah sistem telekomunikasi) yang sangat berperan dalam kehidupan setiap manusia.
Perkembangan jaman mendorong terjadinya perubahan-perubahan disegala bidang, termasuk dalam hal kebudayaan. Kebudayaan yang dianut suatu kelompok sosial pasti akan mengalami pergeseran. Pergeseran ini akan menimbulkan konflik antara kelompok-kelompok yang tidak menghendaki perubahan. Suatu komunitas dalam kelompok sosial bisa saja menginginkan adanya perubahan dalam kebudayaan yang mereka anut, dengan alasan sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman yang mereka hadapi saat ini. Namun, perubahan kebudayaan ini kadangkala disalah artikan menjadi suatu penyimpangan kebudayaan.
Hal yang terpenting dalam proses perkembangan kebudayaan adalah dengan adanya kontrol atau kendali terhadap perilaku regular (yang tampak) yang ditampilkan oleh para penganut kebudayaan. Karena tidak jarang perilaku yang ditampilkan sangat bertolak belakang dengan budaya yang dianut didalam kelompok sosialnya. Yang diperlukan disini adalah kontrol sosial yang ada di masyarakat sehingga masyarakat dapat memilah-milah mana kebudayaan yang sesuai dengan nilai yang ada.
d.        Problematika Budaya
Beberapa problematika kebudayaan yang ada dalam masyarakat antara lain.
1)        Hambatan budaya yang berkaitan dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan. Misalnya, keterkaitan orang Jawa terhadap tanah yang mereka tempati secara turun temurun diyakini sebagai pemberi berkah kehidupan. Mereka enggan meninggalkan kampung halamannya atau beralih pola hidup sebagai petani, padahal hidup mereka umumnya miskin.
2)        Hambatan budaya yang berkaitan dengan perbedaan persepsi atau sudut pandang. Hambatan ini dapat terjadi antara masyarakat dan pelaksana pembangunan.
3)        Hambatan budaya yang berkaitan dengan faktor psikologi atau kejiwaan. Upaya untuk mentransmigrasikan penduduk dari daerah yang terkena bencana alam banyak mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan karena adanya kekhawatiran penduduk bahwa di tempat yang baru hidup mereka akan lebih sengsara dibandingkan dengan hidup mereka di tempat yang lama.
4)        Mayarakat yang terasing dan kurang komunikasi dengan masyarakat luar. Masyarakat daerah-daerah terpencil yang kurang komunikasi dengan masyarakat luar, karena pengetahuannya terbatas, seolah-olah tertutup untuk menerima program-program pembangunan.
5)        Sikap tradisionalisme yang berprasangka buruk terhadap hal-hal yang baru. Sikap ini dangat mengagung-agungkan budaya tradisional sedemikian rupa, yang menganggap hal-hal baru itu akan merusak tatanan hidup mereka yang sudah mereka miliki secara turun-temurun.
6)        Sikap Etnosentrisme adalah sikap yang mengagungkan budaya suku bangsanya sendiri dan menganggap rendah budaya lain.
7)        Penyalahgunaan perkembangan IPTEK sebagai hasil dari kebudayaan. Perkembangan IPTEK seringkali disalahgunakan oleh manusia, misalnya obat-obatan dibuat untuk kesehatan tetapi dalam penggunaannya banyak disalahgunakan yang justru menggangu kesehatan manusia.
8)        Cultural shock atau gagap budaya, Apabila manusia tidak dapat menyesuaikan atau beradaptasi dengan budaya lain, sehingga menimbulkan keraguan dan kecanggungan.
e.         Triangulasi (Individu, Masyarakat, dan Kebudayaan)
Sebagai makhluk individu manusia merupakan satu kesatuan biologis yang perlu hidup berkawan. Perkawanan tersebut tidak lain adalah untuk menciptakan kebudayaan yang menghasilkan alat-alat material juga inmaterial yang diperlukan dalam kehidupannya. Menurut Melville J. Horkovite dan B. Malinowski (Effendi dan Malihah, 2007: 115) mengungkapkan bahwa ‘cultural determination diartikan sebagai segala sesuatu yang terdapat dimasyarakat ditentukan oleh adanya kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat tersebut’.
Terdapat hubungan timbal balik antara individu, masyarakat dan kebudayaan yang mempengaruhi kehidupan manusia. Ketiganya memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Secara sederhana hubungan tersebut dapat digambarkan dalam segitiga seperti yang diungkapkan Syafri Hamid (Effendi dan Malihah, 2007: 116).








Bagan 2.1
Hubungan Timbal Balik Antara Individu, Masyarakat, Dan Kebudayaan

Ketiga sisi segitiga itu sama pentingnya namun masing-masing mempunyai sifat sendiri-sendiri dan mempunyai peranan khusus yang memberikan bentuk kepada masing-masing unsur tersebut. Jika diteliti lebih mendalam, yang memegang peranan penting dalam ketiga unsur tersebut adalah manusianya. Sebagaimana dikemukakan oleh Clinton (Effendi dan Malihah, 2007: 116) bahwa:
‘… the individual is a living organism capable of independent thought feeling and action, but with his independence limited all his responses profoundly modified by contact with society and culture in which he develops’.
Manusia sebagai suatu organ hidup mempunyai kemampuan dan tidak tergantung kepada orang lain dalam pemikiran, perasaaan dan tindakannya akan tetapi kemampuan dan ketidaktergantungannya itu sesungguhnya terbatas oleh karena semua kemampuannya itu dimodifikasikan melalui hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan dan di dalam hubungan itu individu bertambah maju.
Hubungan yang menunjukkan keeratan antar individu, masyarakat dan kebudayaan, adalah masyarakat. Pemisahan ketiga pengertian tersebut hanyalah secara teoritis dan untuk kepentingan analisis, sebab dalam kenyataannya sukar untuk dipisah-pisahkan. Dalam kaitan ini Selo Soemardjan (Effendi dan Malihah, 2007: 116) menyatakan bahwa ‘masyarakat adalah sekumpulan orang-orang yang hidup bersama menghasilkan kebudayaan’. Kerangka pemikiran triangulasi menunjukkan keeratan hubungan antara individu, masyarakat dan kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.





B.       MANUSIA DAN PERADABAN
Istilah peradaban dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian terhadap perkembangan kebudayaan. Peradaban adalah kebudayaan yang bernilai tinggi. Perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya berwujud unsur-unsur budaya yang bersifat halus, indah, tinggi, sopan, luhur, maka masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan telah memiliki peradaban yang tinggi.
Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk beradab dan berbudaya yang tidak bisa hidup di luar adab dan budaya tertentu. Manusia beradab dan berbudaya yang hidup dalam suatu masyarakat beradab bukanlah sesuatu yang alamiah, melainkan diciptakan melalui berbagai upaya yang mendukung terciptanya manusia beradab dan masyarakat adab.
Di Indonesia, sila kelima Pancasila Kemanusiaan yang adil dan beradab memberi pengakuan bahwa manusia yang hidup di Indonesia diperlakukan secara adil dan beradab oleh penyelenggara negara. Kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung nilai bahwa suatu tindakan yang berhubungan dengan kehidupan bernegara dan bermasyarakat didasarkan atas sikap moral, kebajikan dan hasrat menjunjung tinggi martabat manusia, serta sejalan dengan norma-norma. Kemanusiaan yang adil dan beradab juga mencakup perlindungan dan penghargaan terhadap budaya dan kebudayaan yang dikembangkan bangsa yang beragam etnik dan golongan.
Sila kelima Pancasila tersebut secara tegas mencita-citakan suatu masyarakat Indonesia yang beradab. Masyarakat yang beradab adalah masyarakat yang ditandai dengan ketenangan, kenyamanan, ketentraman, dan kedamaian sebagai makna hakiki manusia beradab. Konsep masyarakat adab dalam pengertian lain adalah suatu kombinasi yang ideal antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Dari sejarah kita belajar bahwa secara nyata peradaban  manusia telah berubah dari waktu ke waktu. Hal ini merupakan kelebihan manusia dibanding makhluk lain.
Globalisasi merupakan fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi.
Di Indonesia, problematika peradaban yang timbul akibat globalisasi diantaranya dapat dilihat dalam bidang bahasa, kesenian, dan kehidupan sosial. Akibat perkembangan teknologi yang begitu pesat, terjadi transkultur dalam kesenian tradisional Indonesia. Peristiwa transkultural akan berpengaruh terhadap keberadaan kesenian di Indonesia. Padahal, kesenian tradisional merupakan bagian dari khasanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga kelestariannya. Dengan teknologi informasi yang semakin canggih, masyarakat disuguhi banyak alternatif tawaran hiburan dan informasi yang lebih beragam, yang mungkin lebih menarik jika dibandingkan dengan kesenian tradisional kita. Dengan televisi, masyarakat bisa menyaksikan berbagai tayangan hiburan yang bersifat mendunia yang berasal dari berbagai belahan bumi. Hal ini dapat menyebabkan terpinggirkannya kesenian asli Indonesia.
Problematika peradaban yang penting lainnya adalah adanya kemungkinan punahnya suatu bahasa di daerah tertentu disebabkan penutur bahasanya telah terkontaminasi oleh pengaruh globalisasi. Percampuran bahasa  bisa mengancam eksistensi bahasa di suatu daerah.


BAB III
PEMBAHASAN

A.      Data Hasil Penelitian Melalui Angket dan Analisis
Berikut hasil angket tentang pengaruh kebudayaan asing terhadap kebudayaan daerah Indonesia dengan responden mahasiswa UPI Bandung dengan jumlah 53 orang.
Tabel 3.1
Data Hasil Angket
No.
Item Pertanyaan
Jumlah Responden yang Memilih (...orang)
Faktor Yang Menjadi Alasan
Banyaknya responden yang memilih (...orang)
1.
Lagu/musik apa yang sering Anda dengar/sukai?
ÿ       Lagu khas daerah
ÿ       Lagu kebangsaan
ÿ       Lagu dalam negeri
ÿ       Lagu mancanegara


6
1
27
22
ÿ       Faktor Agama
ÿ       Faktor Sejarah
ÿ       Faktor Ekonomi
ÿ       Faktor Hukum
ÿ       Faktor Sosial
ÿ       Faktor Biologis
ÿ       Faktor Psikologis
4
3
0
1
21
1
22
2.
Bahasa apa yang sering Anda gunakan dalam kehidupan sehari-hari?
ÿ       Bahasa daerah
ÿ       Bahasa Indonesia
ÿ       Bahasa asing



21
35
1
ÿ       Faktor Agama
ÿ       Faktor Sejarah
ÿ       Faktor Ekonomi
ÿ       Faktor Hukum
ÿ       Faktor Sosial
ÿ       Faktor Biologis
ÿ       Faktor Psikologis
0
7
1
0
32
4
6
3.
Bagaimana cara Anda berpakaian?
ÿ       Biasa saja
ÿ       Mengikuti mode yang ada


45
5



ÿ       Faktor Agama
ÿ       Faktor Sejarah
ÿ       Faktor Ekonomi
ÿ       Faktor Hukum
ÿ       Faktor Sosial
ÿ       Faktor Biologis
ÿ       Faktor Psikologis
11
1
7
0
16
2
14
4.
Mana yang lebih Anda pilih?
ÿ       Produk dalam negeri
ÿ       Produk luar negeri







48
5




ÿ       Faktor Agama
ÿ       Faktor Sejarah
ÿ       Faktor Ekonomi
ÿ       Faktor Hukum
ÿ       Faktor Sosial
ÿ       Faktor Biologis
ÿ       Faktor Psikologis
0
2
29
2
10
0
8
5.
Bagaimana cara Anda bertegursapa dengan lawan jenis?
ÿ       Mengucap salam
ÿ       Berjabat tangan
ÿ       Berpelukan
ÿ       Berciuman



43
12
0
0
ÿ       Faktor Agama
ÿ       Faktor Sejarah
ÿ       Faktor Ekonomi
ÿ       Faktor Hukum
ÿ       Faktor Sosial
ÿ       Faktor Biologis
ÿ       Faktor Psikologis
25
0
0
0
23
0
4
6.
Apakah ketika di masa sekolah sampai sekarang, Anda pernah diperkenalkan budaya daerah baik budaya asal daerah sendiri ataupun budaya dari daerah lain?
ÿ       Ya
ÿ       Tidak






50
3
ÿ       Faktor Agama
ÿ       Faktor Sejarah
ÿ       Faktor Ekonomi
ÿ       Faktor Hukum
ÿ       Faktor Sosial
ÿ       Faktor Biologis
ÿ       Faktor Psikologis
1
20
1
0
26
0
4
7.
Bagaimana minat Anda terhadap budaya daerah?
ÿ       Tidak peduli
ÿ       Biasa saja
ÿ       Tertarik


1
19
33
ÿ       Faktor Agama
ÿ       Faktor Sejarah
ÿ       Faktor Ekonomi
ÿ       Faktor Hukum
ÿ       Faktor Sosial
ÿ       Faktor Biologis
ÿ       Faktor Psikologis
0
17
0
0
27
3
5
8.
Bagaimana perasaan Anda saat mengetahui bahwa salah satu budaya kita diakui oleh negara lain?
ÿ       Tidak peduli
ÿ       Biasa Saja
ÿ       Merasa Prihatin
ÿ       Berusaha merebut kembali




1
0
13
38
ÿ       Faktor Agama
ÿ       Faktor Sejarah
ÿ       Faktor Ekonomi
ÿ       Faktor Hukum
ÿ       Faktor Sosial
ÿ       Faktor Biologis
ÿ       Faktor Psikologis
1
14
0
13
16
0
8
9.
Pernahkan Anda berkonstribusi untuk mengembangkan budaya daerah sendiri?
ÿ       Tidak pernah
ÿ       Pernah
ÿ       Sering




6
40
8
ÿ       Faktor Agama
ÿ       Faktor Sejarah
ÿ       Faktor Ekonomi
ÿ       Faktor Hukum
ÿ       Faktor Sosial
ÿ       Faktor Biologis
ÿ       Faktor Psikologis
1
9
2
0
27
1
7

Karena budaya sangat kental dengan unsur kesenian maka item pertanyaan pertama dalam angket mengenai lagu/musik. Musik memiliki peranan yang sangat besar terhadap diri manusia. Dari empat pilihan yang disediakan, sejumlah 27 orang responden memilih lagu dalam negeri sebagai lagu yang paling ia senangi. Seperti kita ketahui, lagu dalam negeri di Indonesia memiliki beberapa jenis seperti lagu pop, rock, jazz, melayu, dangdut, dll. Lagu pop, rock, dan jazz bukanlah jenis musik asli Indonesia. Semuanya berasal dari mancanegara, sehingga dapat terlihat bahwa secara disadari ataupun tidak lagu asli Indonesia yaitu melayu dan dangdut posisinya tergeser oleh jenis lagu dari luar.  22 orang responden lebih memilih lagu mancanegara sebagai lagu yang ia senangi. Apalagi pada anak-anak remaja perkotaan, mereka lebih merasa nyaman dengan lagu-lagu mancanegara sementara mereka terkadang merasa kurang nyaman dengan lagu-lagu asli Indonesia seperti lagu dangdut. Bahkan ada yang beranggapan bahwa dangdut adalah lagu kampungan sehingga mereka tidak begitu menyukainya. 6 orang responden lebih memilih lagu daerah sebagai lagu yang sering ia dengar dan hanya 1 orang yang sering mendengarkan lagu kebangsaan, ini berarti hanya sekitar 13,2 % saja responden yang masih berkontribusi untuk melestarikan budaya daerah dan memiliki jiwa nasionalisme.
Item pertanyaan kedua mengenai bahasa yang selalu diucapkan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sebanyak 21 orang menggunakan bahasa daerah, 35 orang menggunakan bahasa Indonesia, dan hanya 1 orang yang menggunakan bahasa asing (bahasa Inggris). Penggunaan bahasa dalam keseharian bergantung pada lingkungan sekitar, jika kebanyakan temannya berasal dari daerah yang sama maka biasanya secara naluriah bahasa daerah menjadi alternatif dalam berkomunikasi, tapi bila kebanyakan teman disekitarnya berasal dari daerah yang berbeda (seperti mahasiswa) maka bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling mudah digunakan. Namun yang harus diingat kaidah penggunaan bahasa Indonesianya menjadi kurang diperhatikan. Terkadang anak-anak jaman sekarang menggunakan bahasa yang kasar, agak berlebihan (alay), dan gaul.
Item pertanyaan ketiga mengenai budaya berpakaian. 45 orang responden lebih memilih berpakaian seperti biasa dan 5 orang lebih memilih mode yang sedang trend. Untuk mengikuti trend yang sedang ada tentunya dbutuhkan dana yang tidak sedikit, apalagi kalau mode yang diikuti berasal artis yang dikaguminya. Mengikuti trend fashion sebenarnya tidak menjadi masalah besar selama tetap bertumpu pada kaidah agama dan budaya bangsa.
Item pertanyaan keempat adalah mengenai produk dalam dan luar negeri. 48 orang lebih memilih produk dalam negeri dengan alasan produk luar terlampau mahal, hampir 56,86% menjadikan faktor ekonomi sebagai alasan dia memakai produk dalam negeri. Padahal bila ditinjau banyak orang yang lebih suka bisa menggunakan produk luar  dibandingkan dengan produk dalam negeri. Dengan alasan produk luar bisa lebih berkualitas apalagi dalam hal teknologi.
Item pertanyaan kelima mengenai proses interaksi dengan lawan jenis. Sebanyak 43 orang lebih memilih untuk mengucapkan salam saat bertegursapa dengan lawan jenis, dan 12 orang memilih untuk berjabat tangan. Bangsa Indonesia yang mayoritas masyarakatnya beragama islam, tentu menjadikan faktor agama sebagai alasan ia berinteraksi dengan mengucap salam (48,08%). Seperti kita tahu bahwa agama melarang orang yang bukan muhrim untuk mengadakan kontak langsung. Sementara 44,23% menjadikan faktor sosial/lingkungan sebagai acuan untuk bagaimana ia bertindak.
Pertanyaan keenam mengenai proses pengenalan budaya dalam jenjang pendidikan. Walau bagaimanapun pendidikan budaya sangat penting untuk pelestarian budaya. Hampir 94,33% orang mengaku pernah diperkenalkan budaya daerah semasa sekolahnya. Namun disayangkan ternyata masih ada yang belum pernah menerima pendidikan budaya semasa sekolahnya.
Pertanyaan ketujuh mengenai minat terhadap suatu budaya daerah. 33 orang menyatakan tertarik,  19 menyatakan biasa saja, dan 1 orang menyatakan tak peduli. Ketertarikan merupakan modal awal untuk melastarikan dan mengembangkan budaya.
Item pertanyaan kedelapan mengenai masalah budaya yang pernah dialami oleh Indonesia. Lagu daerah “Rasa Sayang-sayange” yang berasal dari Maluku, serta “Reog Ponorogo” dari Jawa Timur diakui sebagai budaya dari Malaysia. Hal ini disebabkan oleh kurang pedulinya bangsa Indonesia terhadap budayanya. 38 responden menyatakan bahwa ia akan berusaha merebut kembali budaya yang telah dicuri, namun sebaiknya menjaga sebelum budaya itu dicuri adalah bukti bahwa ia cinta dengan budayanya. 19 orang cukup hanya merasa prihatin dengan keadaan yang ada, bahkan ada menyatakan bahwa ia tidak peduli sebanyak 1 orang. Hal ini bisa saja terjadi karena pikirannya sudah dirasuki budaya-budaya luar yang lebih cocok dengan kepribadiannya.
Item pertanyaan terakhir mengenai konstribusi langsung responden terhadap perkembangan budaya. 40 orang menyatakan pernah berkonstribusi, 8 orang sering, dan 6 orang menyatakan tidak pernah. Konstribusi masyarakat pada perkembangan kebudayaan sangatlah penting supaya budaya itu tetap ada.





B.       Analisis Faktor-Faktor Penyebab Masuknya Pengaruh Kebudayaan Asing Terhadap Kebudayaan Daerah Indonesia dan Dampaknya
Dari hasil angket yang telah didapat diketahui bahwa masuknya suatu kebudayaan asing pada suatu kebudayaan daerah dipengaruhi oleh beberapa faktor. Masing-masing faktor akan memberikan pengaruh yang berbeda pada setiap wujud kebudayaan.
1.        Faktor Sosial
Dari hasil angket diketahui bahwa faktor sosial sangat berpengaruh terhadap pergeseran kebudayaan yang terjadi di Indonesia. Faktor sosial berpengaruh terhadap seluruh aspek yang dapat menyebabkan pergeseran kebudayaan. Kita ketahui bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Terlihat dari adanya perbedaan, misalnya dari lagu cara berpakaian, serta bahasa yang digunakan. Begitu juga minat mereka terhadap kebudayaan dipengaruhi oleh faktor sosialnya.
Dampak positif dari faktor sosial ini diantaranya.
a.         Apabila seseorang yang masuk dan mendiami suatu daerah yang di daerah tersebut kebudayaannya masih sangat kental, maka secara tidak langsung seseorang tersebut akan mengenal dan mulai mempelajari kebudayaan tersebut.
b.        Dengan pengaruh yang baik, perubahan pola pikir dan sikap, yang semula masyarakat berfikir irasional berubah menjadi rasional.
Sedangkan dampak negatif dari faktor ini diantaranya.
a.       Jika di suatu negara dimasuki kebudayaan lain melalui jaringan televisi, internet, dan komunikasi lainnya yang kini mulai canggih, maka secara perlahan akan menggeser kebudayaan dari negara tersebut secara perlahan, dan mungkin bisa menghapus kebudayaan dari negara tersebut.
b.      Kesenjangan sosial di masyarakat semakin berkembang karena masyarakat merasa tidak butuh pertolongan sesama. Hal ini menimbulkan sikap tak acuh dan individualisme.
c.       Berkembangnya gaya hidup kebarat-baratan. Budaya barat cenderung dengan kehidupan serba bebas. Hal inilah yang menimbulkan gaya hidup anak-anak sekarang kehilangan rasa hormat pada orangtua, menganut pergaulan bebas, dan gaya hidup hedonis.
2.        Faktor Psikologi
Dari hasil angket dilihat bahwa selain faktor sosial, faktor psikologis juga sangat berpengaruh terhadap suatu kebudayaan, misalnya dapat dilihat dari data angket koresponden yang memilih faktor psikologis sebagai alasan dari apa yang mereka gemari atau mereka senangi, contohnya pada lagu atau musik yang mereka sukai. Dapat dikarenakan karena kenyamanan mereka mendengarkan lagu atau musik tersebut, dan membuat mereka menjadi tertarik terhadap musik itu. Hal ini berarti kebudayaan di suatu negara dapat berkembang apabila budaya tersebut dapat memberikan kenyamanan dan dapat menimbulkan daya tarik terhadap masyarakat di negaranya.
Dampak positif dari faktor psikologis yang mempengaruhi kebudayaan, apabila kebudayaan di suatu negara dapat diperkenalkan sejak usia dini, agar timbul suatu ketertarikan yang membuat budaya tersebut dapat dilestarikan. Dampak negatif dari faktor psikologis terhadap suatu budaya, misalnya saat masuknya lagu-lagu atau program program televisi asing yang masuk ke suatu negara dapat mempengaruhi masyarakat didalamnya. Sehingga ia berpaling untuk lebih menggemari lagu-lagu asing sampai mengikuti perkembangannya.
3.        Faktor Sejarah
Dari hasil angket faktor sejarah juga dapat dikatakan berpengaruh terhadap kebudayaan di suatu negara. Dari hasil angket responden yang menjawab faktor sejarah yang berpengaruh terhadap kebudayaan, misalnya dari memperkenalkan kebudayaan tersebut kepada anak-anak di negaranya sejak usia dini. Hal tersebut dapat mempengaruhi perkembangan kebudayaan disuatu negara. Jika seorang anak tidak diparkenalkan kepada budayanya sedari kecil, maka anak akan tidak tahu apa saja kebudayaan yang ada di negaranya. Faktor sejarah ini juga sangat dipengaruhi oleh orang tua mereka. Jika orang tua mereka juga tidak mengenal budaya yang dimilikinya, maka anaknya pun tidak akan mengetahui kebudayaan mereka.
Dampak positif dari faktor sejarah ialah apabila keluarganya memang dilahirkan dengan memiliki kemampuan terhadap satu atau beberapa budaya, maka anaknya pun akan ikut meneruskan budaya yang dimiliki oleh orang tuanya. Sehingga anaknya dapat mengenal budaya di negaranya sendiri. Sedangkan dampak negatif dari faktor sejarah apabila anak itu dilahirkan dari orang tua yang berbeda negara. Dan anak tersebut tidak diperkenalkan pada kebudayaannya, sehingga anak tersebut tidak mengenal kebudayan yang ada di negaranya. Hal ini dapat menyebabkan kebudayaan di suatu negara menjadi tidak berkembang.
4.        Faktor Agama
Dengan adanya budaya lain yang masuk ke dalam budaya kita maka kita akan terpengaruh oleh budaya luar tersebut. Kita dapat mengambil sisi positif dari kebudayaan tersebut untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di lingkungan kita. Namun pengambilan atau pengadopsian kebudayaan tersebut harus sesuai dengan norma atau nilai dan aturan agama yang ada di lingkungannya. Misalnya dalam cara kita berpakaian kita sangat terpengaruh oleh kebudayaan dari luar, pada kenyataannya banyak masyarakat cenderung memakai pakaian yang agak terbuka daripada memakai pakaian asli Indoneisa yang cenderung tertutup dan lain sebagainya seperti para artis yang penampilannya sudah diluar batas norma masyarakat. Dari angket yang kami sebarkan terdapat orang yang tidak mengikuti mode pakaian dari luar karena faktor agama. Menurut agama mereka dilarang atau diharamkan untuk berpakaian yang terlihat auratnya sehingga mereka tidak mengikuti mode pakaian tersebut karena biasanya mode dari luar lebih mengumbar aurat. Dalam hal bertegur sapa mereka juga mengucapkan salam setiap kali bertemu dengan orang lain. Hal ini mereka lakukan karena dalam agama diperintahkan untuk mengucapkan salam setiap kali bertemu dengan orang.
5.        Faktor Ekonomi
Ekonomi juga dapat menjadi penyebab terjadinya pergeseran budaya. Banyak masyarakat kita yang lebih memilih membeli barang dari luar karena kualitasnya yang lebih baik dibandingkan dengan barang lokal. Dari angket yang kami sebar ada orang yang memilih membeli produk dari luar karena harganya yang lebih murah namun adapula yang berpikir sebaliknya, membeli barang produk atau barang dari luar harganya mahal sehingga mereka lebih memilih membeli barang dalam negeri. Misalnya dalam hal berpakaian, sebenarnya mereka ingin mengikuti mode yang sedang trend namun karena harganya mahal mereka tidak mengikutinya. Untuk orang kalangan atas mengikuti cara berpakaian dari luar dapat mereka ikuti. Dalam hal ini orang berada akan mudah terpengaruhi oleh trend atau budaya dari luar dibandingkan denga orang dari kalangan rendah.
Banyaknya produk impor yang beredar di Indonesia menyebabkan produk dalam negeri menjadi tersisih, apalagi diperkuat dengan kualitas barang impor yang lebih bagus. Hal ini dapat membuat pendapatan masyarakat yang menghasilkan produk dalam negeri menjadi terganggu.
6.        Faktor Hukum
Dari segi hukum kita juga dapat terpengaruh oleh budaya luar. Karena hukum kita yang kurang tegas dalam pelestarian budaya maka dengan mudah budaya kita diakui oleh orang lain, sehingga masyarakat menjadi kecewa dan menjadi enggan untuk berkontribusi pada pelestarian budaya. Dari angket yang kami sebar banyak orang yang menjawab prihatin terhadap budayanya yang diakui oleh negara lain namun banyak juga dari mereka yang menjawab biasa saja minat mereka terhadap budaya daerah ini sangat bertolak belakang dengan pernyataan mereka yang mengatakan prihatin terhadap budayanya. Tetapi lebih banyak orang yang berkontribusi terhadap pelestarian budayannya ini berarti mereka benar-benar prihatin terhadap budaya mereka dan mereka benar-benar ingin melestarikan budayanya. Hukum di Indonesia yang kurang tegas menyebabkan negara lain merasa tidak takut untuk mencuri budaya yang ada di Indonesia.
7.        Faktor Biologis
Faktor biologis juga berpengaruh dalam pergeseran budaya, namun kontribusi faktor tersebut sangat kecil sekali. Dari angket yang kami sebarkan hanya sedikit sekali yang menjawab alasan karena adanya faktor biologis. Itupun karena alasan mereka yang tidak cocok untuk mengikuti trend berpakaian yang ada karena masalah bentuk badan, yang mereka pikir itu berhubungan dengan faktor biologis.
Atau bisa saja karena orangtuanya berbeda kenegaraan sehingga ia akan mengikuti kedua jenis kebudayaan dari kedua orangtuanya. Faktor keturunan ia dilahirkan atau asal usul keluarga juga menentukan perkembangan budaya. Bila ia lebih menyukai budaya negara lain yang merupakan negara kelahiran dari ayah atau ibunya, maka ia bisa saja tidak menyukai budaya dimana ia dilahirkan.

C.      Solusi Untuk Menangani Pengaruh Kebudayaan Asing Yang Berdampak Buruk Terhadap Kebudayaan Daerah Indonesia
Agar budaya kita tidak terkikis oleh budaya luar maka pemerintah, pelaku budaya, dan masyarakat harus menemukan solusi yang konkrit sehingga budaya daerah tetap ada dan berkembangn dengan baik.
1.        Faktor Sosial
            Dalam hal ini lingkungan sangat berpengaruh sekali terhadap kecenderungan bertahannya suatu budaya. Oleh karena itu, kita sebagai bangsa Indonesia yang terdiri dari berbeda-beda budaya kita harus melestarikan budaya, sebagai contoh menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mengembangkan kebudayaan, memperkenalkan kepada masyarakat terutama pada anak-anak, diadakannya pembelajaran yang berkaitan dengan budaya (pendidikan budaya) misal dalam kesenian (seni tari, seni musik)  mungkin dengan cara sepeti ini budaya kita bisa bertahan.
2.        Faktor Psikologi
            Faktor psikologi bisa berkaitan dengan kenyamanan, sikap dan tingkah laku individu dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin bisa pada orang tua, teman sebaya, bisa juga dengan orang lain. Dalam hal ini apabila dampak negatif  telah mempengaruhi pada psikologi seseorang terutama anak-anak remaja sekarang bisa merusak budaya yang telah ada misalnya saja budaya sopan santun. Solusi yang tepat bahwa orang tua harus sering memberikan perhatian, menasehati anak dan menjelaskan atau memberikan contoh pada anak sikap yang baik, sopan itu seperti apa. Dan tidak hanya orang tua bisa juga guru di sekolah menjelaskan adat istiadat, buadaya kita itu seperti apa dan perbedaan budaya kita dengan budaya asing.
            Para pelaku budaya harus bisa menciptakan budaya yang lebih menarik, sehingga masyarakat bisa turut serta mau berkonstribusi dalam mengembangkan budaya. Jadi kekreatifitasan ciptaan budaya harus ditingkatkan.
3.      Faktor  Agama
Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Nilai-nilai yang berasal dari agama harus ditanamkan sejak dini. Dengan memegang teguh kaidah agama yang diyakininya, hidup manusia akan lebih terarah dan berpedoman pada aturan yang jelas. Manusia akan merasa takut pada Tuhannya bila ia melakukan hal-hal yang tidak bermoral, sehingga ia akan lebih berhati-hati dalam bertindak. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama. Solusi dari kita mungkin hanya satu belajar mendekatkan diri kepada Tuhan. Bisa dengan cara memperdalam ilmu agama (mengaji) dan yang terpenting adalah kesadaran pada setiap pribadi manusia itu sendiri.
4.        Faktor Sejarah
Memperkenalkan budaya melalui pendidikan budaya di sekolah-sekolah. Sehingga anak-anak akan tau dan paham budaya apa saja yang ada di Indonesia dan menanamkan jiwa kepeduliannya supaya budaya itu tetap ada dan berkembang dengan baik.
5.        Faktor Ekonomi
Solusi untuk faktor ekonomi ini, pemerintah harus menyediakan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan skill yang dimiliki orang dan SDM yang berkualitas. Dengan skill yang bagus maka ia bisa menciptakan suatu produk yang berkualitas sehingga masyarakat tidak akan membeli produk dari luar yang bisa merusak produk dalam negeri.
6.        Faktor Hukum
Bangsa Indonesia harus menengakkan hukum yang jelas dan tegas yang menengani  masalah kebudayaan, sehingga bangsa ini tidak akan kehilangan salah satu warisan nenek moyang yang merupakan ciri dan citra bangsa.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN


A.      Kesimpulan
Perkembangan suatu budaya bisa kearah yang baik maupun kearah yang buruk. Semua pengaruh itu bisa datang dari luar budaya (budaya asing) sehingga dapat membuat budaya yang telah ada menjadi terkikis bahkan sampai musnah. Banyak faktor penyebab yang membuat budaya asing masuk ke dalam budaya daerah,.
1.        Faktor Sosial
Faktor sosial berpengaruh terhadap seluruh aspek yang dapat menyebabkan perbedaan dan pergeseran kebudayaan. Lingkungan sosial yang berbeda, akan membuat budaya yang dihasilkan berbeda pula.
2.        Faktor Psikologi
Faktor psikologis juga sangat berpengaruh terhadap suatu kebudayaan, faktor psikologis berhubungan dengan sesuatu yang mereka gemari atau mereka senangi. Hal ini lebih bersifat naluriah.
3.        Faktor Sejarah
Faktor sejarah yang berpengaruh terhadap kebudayaan, misalnya dari memperkenalkan kebudayaan tersebut kepada anak-anak di negaranya sejak usia dini. Bila anak tidak tau sejarah dari suatu budaya maka bagaimana mungkin ia bisa mengenal budaya tersebut.
4.        Faktor Agama
Dengan adanya budaya lain yang masuk ke dalam budaya kita maka kita akan terpengaruh oleh budaya luar tersebut. Namun pengambilan atau pengadopsian kebudayaan tersebut harus sesuai dengan norma atau nilai dan aturan agama yang ada di lingkungannya.
5.        Faktor Ekonomi
Ekonomi juga dapat menjadi penyebab terjadinya pergeseran budaya. Banyak masyarakat kita yang lebih memilih membeli barang dari luar karena kualitasnya yang lebih baik dibandingkan dengan barang lokal.
6.        Faktor Hukum
Hukum di Indonesia yang kurang tegas menyebabkan negara lain merasa tidak takut untuk mencuri budaya yang ada di Indonesia.
7.        Faktor Biologis
Faktor keturunan ia dilahirkan atau asal usul keluarga juga menentukan perkembangan budaya. Bila ia lebih menyukai budaya negara lain yang merupakan negara kelahiran dari ayah atau ibunya, maka ia bisa saja tidak menyukai budaya dimana ia dilahirkan.

B.       Saran
Berikut saran yang bisa dijadikan bahan untuk mengatasi permasalahan budaya di Indonesia.
1.        Faktor Sosial
Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mengembangkan kebudayaan, memperkenalkan kepada masyarakat terutama pada anak-anak, diadakannya pembelajaran yang berkaitan dengan budaya (pendidikan budaya) misal dalam kesenian (seni tari, seni musik)  mungkin dengan cara sepeti ini budaya kita bisa bertahan.
2.        Faktor Psikologi
Para pelaku budaya harus bisa menciptakan budaya yang lebih menarik, sehingga masyarakat bisa turut serta mau berkonstribusi dalam mengembangkan budaya. Jadi kekreatifitasan ciptaan budaya harus ditingkatkan.
3.        Faktor Sejarah
Memperkenalkan budaya melalui pendidikan budaya di sekolah-sekolah. Pengenalan bisa melalui media cetak, media elektronik, maupun konstribusi langsung.
4.        Faktor Agama
Nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama. Supaya pengaruh dari budaya asing tetap bermoral.
5.        Faktor Ekonomi
Penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat oleh pemerintah dan peningkatan SDM yang berkualitas supaya mampu bersaing di ajang Internasional.
6.        Faktor Hukum
Bangsa Indonesia harus menengakkan hukum yang jelas dan tegas yang menengani  masalah kebudayaan, sehingga bangsa ini tidak akan kehilangan salah satu warisan nenek moyang yang merupakan ciri dan citra bangsa.


DAFTAR PUSTAKA




Abyhape. (2011). Manusia dan Kebudayaan. [Online]. Tersedia http://abyhape.blogspot.com/2011/03/manusia-dan-kebudayaan.html [23 Oktober 2011]
Agustina, E. (2011). Kemajemukan Dan Kesetaraan Sebagai Kekayaan Sosial Budaya Bangsa. [Online]. Tersedia http://pendidikan-emaagustina.blogspot.com/2011/05/ ckemajemukan-dan-kesetaraan-sebagai.html [23 Oktober 2011]
Ahira, A. (2011). Pengarauh Kebudayaan Barat Pada Kebudayaan Indonesia. [Online]. Tersedia http://www.anneahira.com/kebudayaan-barat.htm [25 Oktober 2011]
Dyastriningrum. (2009). Antropologi XI. Jakarta: PT. Cempaka Putih.
Effendi, R. dan Malihah, E. (2007). Pendidikan Lingkungan Sosial, Budaya dan Teknologi. Bandung: CV. Maulana Media Grafika.
Hamid-Hasan, S. (2010). Penguatan Metodelogi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya Untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa. Jakara: Depdiknas
Mudra, M. (2008, 8 Juli). Budaya Indonesia Terkikis Budaya Barat. Suara Pembaruan [Online], Tersedia http://melayuonline.com/ind/news/read/5135/budaya-indonesia-terkikis-budaya-barat. [23 Oktober 2011]



 




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar